Senin, 28 November 2022
Satya -Dharma
Karakter Jaman Kaliyuga
Tanmrsavada
*Mutiara Weda*
13 /11/ 2022
*Tanmrsavada*
*Umat Sedharma*, Jika kita renungkan Pepohonan yang ditebang dan dipangkas pasti akan bisa tumbuh segar kembali, tapi sangat berbeda halnya dengan *Perkataan*. Jika Perkataan mengandung niatan jahat tiada bedanya dengan anak panah setiap orang yang Kena pasti akan merasakan sakit yang teramat dalam.
Sesungguhnya *Perkataan* itu jika maksudnya baik dan secara baik pula diucapkannya hanyalah kesenangan yang ditimbulkannya, Demikian pula sebaliknya manakala perkataan itu tidak disampaikan secara baik baik akan menimbulkan duhka yang sangat Dalam *Pamuhara Lara*
*Oleh karena itu*, Marilah sebagai umat Hindu untuk selalu belajar bertutur kata yang sopan & santun, baik serta benar *Wacika Parisudha* dengan meninggalkan kebiasaan berkata kata kasar, suka mendusta, memfitnah *tanmrsavada* serta berhenti memikirkan kejahatan terhadap orang lain dengan berjanji pada sang Diri untuk selalu memegang ajaran kebenaran *Dharmika* serta mengendalikan indrya *Tapah Manasa*. Niscaya umat Hindu akan mendapatkan ketenangan dan Kedamaian lahir maupun bathin dalam menjalankan proses samsara menuju kebahagiaan Sekala maupun Niskala Nantinya.
(SS. 117-127)
*Made Worda Negara*
BINROH Hindu TNI AU.
Pinandita Sanggraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta
Tiga Barang Berharga dlm Hidup
*Mutiara Weda*
14/11/2022
*Tiga Barang Berharga dlm Hidup*
*Umat sedharma*, Merampas ataupun mencuri milik orang lain Korupsi dengan kekuatan tipudaya yang digunakan sebenarnya bukanlah jumlah dari nilai barang yang dicuri atau dirampasnya yang terpenting melainkan Dharma, artha dan Kamanya itulah yang turut terampas oleh perbuatannya.
Sesungguhnya ada tiga barang yang paling berharga dalam kehidupan ini antara lain ; sifat tidak menyakiti orang lain, tidak suka memfitnah atau berkianat dan berkata kata yang jujur & benar.
*Oleh karena itu*, sebagai umat Hindu untuk selalu memegang teguh ajaran Astenya yang mengajarkan manusia agar selalu *jujur*
tidak suka mengambil hak milik orang lain, tidak mencuri ataupun korupsi yang bertentangan dengan nilai nilai Dharma. *Niscaya*, hidup akan menjadi bahagia tidak ada praduga maupun prangka ibaratkan seekor kijang atau seekor binatang liar yang masuk kedalam desa akan penuh praduga dan prasangka.
(SS.149-152)
*Made Worda Negara*
BINROH Hindu TNI AU.
Pinandita Sanggraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta
Membangun kesadaran spiritual
*Mutiara Weda*
15 /11/2022
*Membangun Kesadaran Spiritual*
*Umat Sedharma*, Pikiran yang bulat dan terpusat memudahkan dalam menyatukan akan pemahaman terhadap sesuatu, akan tetapi manakala pikiran bercabang cabang dapat dipastikan akan meninbulkan pikiran yang dualisme, keragu raguan serta ketidakteguhan akan pikiran.
Memusatkan pikiran pada kerja, tugas dan kewajiban serta tetap teguh baik dalam keberhasilan maupun di saat dalam kegagalan sehingga nantinya tidak goyah serta mampu bersikap Netral pada apa yang didengar dan apa yang akan didengar.
*Oleh karena itu*, pusatkan selalu pikiran pada kemahakuasaan Hyang Widhi dengan bekerja tanpa mengharapkan hasil semata mata dari perbuatan sebagai motifnya, dengan jalan mensinergiskan unsur unsur Triguna dalam diri. *Niscaya* akan dapat mencapai *kesadaran spiritual* menuju kesadaran Tuhan *samadhi* serta merealisasikan sang Diri *Yoga* dalam mencapai kebahagiaan sejati nantinya.
(BG II.43-53)
*Made Worda Negara*
BINROH Hindu TNI AU.
Pinandita Sanggraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta
Nirlobha
*Mutiara Weda*
16/11 /2022
*Nirlobha*
*Umat Se-dharma*,
Sifat Lobha merupakan salah satu dari enam musuh yang ada dalam diri setiap umat manusia *Sad Ripu* . Setiap manusia sudah semestinya berpikir terhadap kekayaan dan cara memperolehnya dengan menunjukkan sikap bijak, hormat dan santun kepada-Nya dengan berlandaskan pada ajaran Dharma.
Jika direnungkan sifat “Lobha” juga memiliki dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif terhadap diri sendiri serta orang lain. Lobha yang berdampak negatif sudah dimasuki unsur rajas dan tamas dan tak terkendali yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
*Oleh karena itu*, sudah menjadi kewajiban bagi setiap umat Hindu dalam membangun kedamaian dan keharmonisan menuju kebahagiaan lahir maupun bathin , sekala maupun niskala dengan mengendalikan sifat siafat rakus menuju Ketidakrakusan *Nirlobha* dengan menggunakan Wiweka serta di landasi unsur Satwika . Niscaya akan dapat tercapainya Tujuan hidup yaitu Catur Purusa Artha.
(Reg Veda. 10.31.2)
*Made Worda Negara*
BINROH Hindu TNI AU.
Pinandita Sanggraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta
Amratistha Pavana
*Mutiara Weda*
17 / 11 /2022
*Amratistha Pavana*
*Umat Se-dharma*, Dalam menerapkan Konsep Tri Hita Karana umat Hindu tidak bisa lepas dari proses *Amratistha Pavana* yaitu menjaga kelestarian dan kebersihan alam semesta *Bhuana Agung & Bhuana Alit* serta dalam mengembangkan kehidupan, menjaga alam semesta beserta isinya secara serasi dan seimbang dengan menjalankan *Sad Pertivi Daryante*.
Sad Pertivi Daryante merupakan enam hal yang wajib dilakukan oleh umat Hindu dalam menjaga tetap tegaknya kelestarian alam semesta atau ibu pertiwi antara lain :
*Satya* : Unsur kebenaran
*Rta* : hukum Tuhan yang bersifat kekal abadi.
*Tapa* : Pengendalian diri lahir dan bathin serta pengekangan diri.
*Diksa* : Kesempurnaan.
*Brahma* : Penciptaan / Utpeti
*Yadnya* : suatu kewajiban suci yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu.
*Oleh karena itu*, sebagai umat Hindu sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan keenam sad Pertivi Daryante tersebut dalam menjaga kelestarian dan kebersihan alam *Amratistha Pavana* serta menjaga kelesatarian makhluk hidup *Sarva prani*. Niscaya hidup yang Damai, harmonis, rukun dan tentram yang berlandaskan Tri Hita Karana akan terwujud.
(Atharva Veda XII.1.1)
*Made Worda Negara*
BINROH Hindu TNI AU.