Selasa, 22 Maret 2022

Dhyana

*Mutiara Weda*
16 / 03/ 2022

*Dhyana*  : Membangun Kualitas Rohani

*Umat se-dharma*, sumber kebocoran energi yang paling besar dan sangat berbahaya bagi umat Manusia terletak pada tak terkendalinya Manah /  alam pikiran sehingga cenderung liar, berakibat rendahnya tingkatan rohani berujung  rapuhnya  spiritualitas seseorang.

Tidak terpusatnya alam pkiran dan tak terkendalinya Indrya secara otomatis  akan menyebabkan   sulitnya  dalam mengatasi gangguan,  godaan dan cobaan  hidup sehingga pemusatan  pikiran / *Dhyana* menjadi faktor penentu  dalam membangun kualitas rohani.

*Oleh karena  itu*, sebagai umat Hindu, pegang teguh ajaran agama secara benar, perkokoh kualitas  mental Rohani melalui  pemusatan  pikiran *Dhyana* dengan selalu menjaga kestabilan tiga komponen dasar yang ada dalam diri sitiap umat manusia;
*Vihara* : kualitas Intelektual
*Ahara* : Kualitas Mental, moral dan.budhi pekerti
*Ausadha* : Postur dan kesehatan lahiriahnya. Niscaya akan selalu dapat mengendalikan Indrya   dari pengaruh - pengaruh Sad Ripu.
[Kitab Wraspati Tatwa]

*Made Worda Negara*
BINROH  HINDU TNI AU.

Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta

Selaraskan Unsur Tri Guna

*Mutiara Weda*
17/03/2022

 *Selaraskan Unsur Tri Guna dalam Diri*

*Umat Se-dharma*, jika dicamkan  sifat mudah  Emosi atau  lekas marah  sering menggerogoti jiwa umat manusia yang tanpa disadarinya.  Dan emosi merupakan perkara yang  dianggap sangat sulit untuk dikendalikan, manakala emosi terlampau di tekan maka akan terciptanya suatu kebosanan dan bila tidak dikendalikan  akan dapat melahirkan sifat ekstrem dan dendam  yang terus menerus secara membabi buta   yang  dapat mengakibatkan timbulnya   berbagai  macam penyakit dalam diri yang bersangkutan.

Dalam tuntunan ajaran agama Hindu ;  sesunguhnya yang menjadi akar persoalan timbulnya  *Emosi* adalah ketidakmampuan menyelaraskan Unsur unsur  *Tri Guna*  ( Satwam, rajas dan tamas).  Tri Guna yang ada dalan diri manusia akan melahirkan kecendrungan sikap dan  prilaku serta cara Berpikir seseorang, apapun macam *Guna*  yang mempengaruhi,  begitulah sifat dari pikiran seseorang. Jadi Emosi sangat ditentukan oleh kecenderungan kecenderungan  unsur *Guna* yang menguasainya, manakala  dikuasai oleh unsur *rajas* maka sifat  pemarah dan geram akan menunggangi & menyelimuti jiwanya.

*Oleh karena itu*. Sebagai umat Hindu kendalikan  sifat emosi  pengaruh  dari unsur  *rajas* itu dengan menyusupkan kecendrungan  *Satwika guna* atau mengendalikan unsur *Rajas* dengan unsur *Satwam* serta berusaha mengimplementasikan ajaran pengendalian diri lahir & bathin *Yama* dan *Nyama*.  Niscaya *Emosi* perlahan lahan akan terkendali. (Tattwa Jnana 10)

*Made Worda Negara*
BINROH  Hindu TNI AU.

Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta

A t a t a y i

*Mutiara Weda*
18/03/2022

*A t a t a y i*

*Umat Se-dharma*, Jika direnungkan ;  setiap umat manusia tidak bisa lepas dari yang namanya tabiat. terhadap tabiat yang menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh rasa dengki / iri hati akan kebahagiaan orang lain  sebagai suatu tindakan kejahatan *atatayi*.

Orang yang memiliki sifat *Irsya /iri hati* tidak akan pernah merasakan kenyamanan & kedamaian dalam hidupannya karena di dalam hatinya akan  selalu bergejolak unsur Rajas & tamas. Meninggalkan tabiat iri hati dan dengki  sebagai salah satu pilihan menuju  kebahagiaan sejati.

*Oleh karena itu*,  sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap umat Hindu  untuk selalu berkarma/  berbuat dengan penguatan pada rasa cinta kasih kepada sesama  dengan dominasi unsur *Satvam*, membuang jauh jauh sifat iri hati dan dengki melalui pengendalian pikiran dengan mengikat *Panca Indrya* sehingga  pikiran tidak terlekati oleh penderitaan yang tidak terobati *Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet*. Niscaya akan terhindar dari Kesengsaraan dan penderitaan menuju kebahagiaan lahir maupun bathin,  Manah Santih  ataupun  Parama Santih.
(SS.88-91)

*Made Worda Negara*
BINROH  Hindu TNI AU.

Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta

Prema Vahini

*Mutiara Weda*
19/ 03/2022

*Prema Vahini*

*Umat se-sedharma*,  dalam sebuah sesanti ada menguraikan “Cabang  dari pohon itu  akan  merunduk tatkala dipenuhi oleh *Buah*,  demikian juga *Awan*  akan merendah manakala dipenuhi oleh *Uap*, demikian pula halnya  dengan  orang *Bijak* menjadi berhati lembut, sabar, tenang dan penuh pengampunan karena *kesucian bathinnya*".

Membersihkan serta mensucikan  bathin sudah menjadi keharusan bagi setiap  umat Hindu. Jangan biarkan  sifat iri hati dan dengki
bersemayam dalam  lubuk  hati   yang menyebabkan  munculnya *rasa benci* dan *Kroda* yang membabi buta berakibat  hancur  dan hilangnya  kehormatan diri. Manakala sifat iri hati dan rasa benci ada dalam hati nurani  maka  sudah tidak perlu lagi membuat dosa karena sifat iri dan rasa benci itu adalah *dosa besar*.

*Oleh karena itu*, sebagai umat Hindu jangan pernah  berhenti  menumbuhkan  sifat kedewataan dalam diri *Daivi Vak* dengan penguatan  pada persaudaraan sejati
*Vasudhaiva Kutumbakam*, tampakkan  rasa  cinta kasih *Prema Vahini*  serta  membuang jauh jauh kegelapan pikiran :  rasa Benci, serakah  dan Iri hati *Asuri Sampad*. Niscaya akan terhindar dari Dosa   & malapetaka.
(Atharva Veda X.6.1)

*Made Worda Negara*
BINROH  Hindu TNI AU.

Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta

Guna Dharma

*Mutiara Weda*
20/ 03/2022

*Guna Dharma*

*Umat se-dharma*, perlu disadari bahwa  Orang yang tidak menjalankan ajaran Dharma dengan baik ibarat seperti padi  hampa ataupun  telur busuk, yang kenyataan ada namun tiada gunanya *Hana Tan Hana* ada tapi tiada guna.

Menjadi orang  yang meguna  sebagai suatu keharusan setiap umat manusia, dalam arti  yang lebih luas tidak hanya berupa hasil atau manfaat yang diperolehnya  melainkan  juga  faedah atau  manfaat secara pribadi karena telah mampu mengendalikan diri dan melaksanakan petunjuk  ajaran kitab suci Weda Samhita.

*Oleh karena itu*, Jadilah orang yang *meguna* dalam menjalankan  *sumber sumber ajaran Dharma*  sesuai dengan  swa dharma  masing -  masing, dengan jalan memegang teguh ajaran kebenaran *Satya* . Niscaya akan akan dapat terbangunnya umat Hindu yang kuat dan kokoh akan sradhanya.
( Slokantara,2)

*Made Worda Negara*
BINROH  Hindu TNI AU.

Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta

T y a g a

*Mutiara Weda*
21/03/2022

*Tyaga*

*Umat Se-dharma*, jika kita lihat dalam Susastra Hindu ada menguraikan : *Nasti jnanasamam dravyam, nasti krodhasamo ripuh...* 
Tidak ada kekayaan yang menyamai pengetahuan, tidak ada musuh sejahat kemarahan, tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan, tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan dalam melepaskan diri dari nafsu  *Tyaga*.

jika nafsu atau  Indrya sudah dapat dikendalikan  maka akan mendapatkan kebahagiaan sejati, begitu pula manakala kemarahan sudah dapat dikendalikan maka hilanglah musuh yang ada dalam diri kita.

*Oleh karena itu*, Marilah sebagai umat Hindu  untuk selalu mengendalikan Indrya *Nyekung Jnana* ,  membersihkan pikiran dengan kebenaran  *Satya, karena pikiran merupakan unsur penentu dari perasaan hati  maupun dalam berbuat *Manah satyena sudhyanti*. Niscaya akan mampu mengendalikan pikiran *Dharana* menuju *Dhyana*  terpusatnya pikiran.
(Slokantara 39.54 & SS  79-87)

*Made Worda Negara*
BINROH  HINDU TNI AU.

Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta .

Hukum Karma

*Mutiara Weda*
22/03/2022

*Hukum Karma*

*Umat se-dharma*, dalam sesanti Hindu ada menyebutkan, burung murai itu dihargai karena suaranya, begitu pula jika dilihat  Dalam semua ajaran , Gurulah yang paling berharga. Demikian juga  dalam hal memaafkan,  ketinggian dan keluhuran budilah yang paling dikagumi.

Orang yang mendalami ajaran  kerohanian atau kedyatmikan pastilah memahami isi  ajaran agama yang sebenarnya dan orang yang mendalami ajaran Dharma dapat  dipastikan berkeyakinan bahwa dalam proses kehidupan ini selalu dibayang bayangi oleh Hukum Karma Phala serta pahala dari  prilaku jahat  itu akan berbalik kepada  asalnya atau si pelakunya *Pratikara* atau *Ngunduh Wohing Pakarti*

*Oleh karena itu*, sebagai umat Hindu mantapkan kualitas rohani *Samyagjanana* dengan perkuatan pada pondasi dasar ajaran agama dengan  selalu memancarkan ajaran Kebajikan *Satyam*  serta membuang jauh jauh prilaku jahat .Niscaya dalam menjalankan proses Samsara menjalankan  kehidupan dengan Nyaman  & Damai,  manah Santih maupun parama santih dapat terwujud.
( Nitisastra, II.6 & Slokantara 7.17)

*Made Worda Negara*
BINROH  Hindu TNI AU.

Pesantian Widya Sabha Sasmitha-Yogyakarta